Kamis, 21 November 2013

Menguji Keberpihakan Sang Bupati Tangerang

 



http://www.splli.org/2013/11/menguji-keberpihakan-sang-bupati.html
Polisi berjaga-jaga di daerah tol bitung, Tangerang
 

















Selasa malam (19/11), Anggota Dewan Pengupahan Kabupaten Tangerang dari FSPMI M Rasukan mengumumkan hasil rapat pleno penetapan UMK dari atas mobil komando. Ada dua angka yang dimunculkan. Pertama adalah usulan dari wakil pekerja sebesar Rp. 2.602.039,- dan yang kedua adalah usulan Apindo, sebesar Rp. 2.285.300,-.

 
“Untuk selanjutnya, nilai rekomendasi ini akan diserahkan kepada Bupati Tangerang. Bupatilah nanti yang akan memutuskan rekomendasi akhir UMK Tangerang, sebelum kemudian ditetapkan oleh Gubernur,” ujar Rasukan.
 
Saya yang saat itu berada persis di samping Rasukan, bisa merasakan kekecewaan ribuan buruh yang masih bertahan di Kantor Disnakertrans Kabupaten Tangerang. Kaki saya bergetar. Kecewa, marah, sedih, semua menyatu dalam diri. Ini memang bukan keputusan akhir, tetapi melihat dari angka yang disodorkan ke Bupati, sudah bisa diprediksi berapa nilai UMK Tangerang yang akan ditetapkan nanti.
Setelah M. Rasukan mengumumkan hasil rapat pleno Depekab, saya menyampaikan kepada peserta aksi, bahwa perjuangan belum berakhir. Ini justru menjadi awal dari perjuangan kita selanjutnya. Karena sudah jelas terpampang didepan mata, tugas selanjutnya adalah memastikan Bupati Tangerang juga merekomendasikan nilai UMK 2014 yang besarnya sama dengan usulan dari perwakilan buruh yang duduk di Depakab, yaitu sebesar 2,6 juta.
 
“Itu harga mati. Apalagi kita sudah jauh mengalah dari angka yang kita usulkan semula, naik 50 persen,” kata saya.
 
“Berjanjilah pada diri sendiri, bahwa besok, kita akan melakukan aksi yang lebih besar ke Kantor Bupati.”
 
Ketika malam itu saya meninggalkan Kantor Disnakertrans Kabupaten Tangerang, saya melihat kawan-kawan dari berbagai serikat sedang bergerombol dibeberapa titik. Mereka sedang mendiskusikan rencana tindak lanjut atas hasil rapat pleno Depekab Tangerang yang baru saja usai.
Dan Bupati Tangerang pun memutuskan besarnya UMK 2014 adalah Rp. 2.442.000,- Inilah yang kemudian memicu perlawanan yang lebih keras lagi. Ribuan buruh dari berbagai serikat akhirnya turun kejalan-jalan. Mereka berkumpul di Jalan Raya Serang, tepatnya dilampu merah Tiga Raksa, persis didepan akses masuk ke Puspemkab (Pusat Pemerintah Kabupaten) Tangerang. Jalan ini menghubungkan antara Kota Tangerang dan Serang. Bukan diniatkan untuk mengganggu kepentingan umum, tetapi untuk mengingatkan kepada semua pihak, bahwa aspirasi kaum buruh pun penting untuk diperhatikan.
 
Angka Kabupaten Tangerang ini tak berbeda dengan Kota Tangerang Selatan, yang bahkan sudah direkomendasikan oleh Depeko Tangerang Selatan di hari Senin (18/11). Hingga pagi ini kita masih menanti angka dari Walikota Tangerang, setelah Depeko merekomendasikan tiga angka: Usulan SP/SB sebesar Rp.3.162.189,00; dari Apindo sebesar Rp.2.220.375,00 dan dari Pemerintah sebesar Rp.2.444.301,00.
 
Sama seperti yang dilakukan oleh buruh didaerah-daerah lain, di Tangerang pun, penolakan terhadap rekomendasi UMK terus dilakukan. Apalagi Tangerang dikenal dengan sebutan Kota Seribu Industri. Wajar jika kemudian buruh menuntut agar kesejahteraan mereka tak diabaikan.
 
Bagaimana Pak Bupati. Apakah Anda bersedia merevisi nilai rekomendasi UMK 2014?

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...